Bagi dokter jantung, darah ibarat bola kristal yang selalu bisa meramalkan risiko serangan jantung pada pasiennya. Selain dari tekanan darah, risiko tersebut juga bisa dilihat dari kadar komponen-komponen di dalamnya. Darah yang kotor bisa menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah, sehingga aliran darah terhambat. Penyumbatan itu bisa menyebabkan kegagalan fungsi jantung, bahkan juga bisa memicu stroke jika terjadi pada aliran darah ke otak.
Berikut ini adalah beberapa komponen darah yang bisa meramalkan kondisi kesehatan jantung:
Apolipoprotein B (apo B)
Protein ini merupakan petunjuk kadar LDL atau kolesterol jahat di dalam darah. Kadar LDL yang tinggi meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.
Apolipoprotein E4 (apo E4)
Kemampuan tubuh untuk merespons perubahan pola makan ditunjukan dengan kadar apo E4 di dalam darah. Tes untuk mengukur kadar komponen ini dapat memprediksi risiko serangan jantung yang sebenarnya, lebih akurat dibanding apo B.
Chlamydia pneumoniae
Bakteri ini sebenarnya adalah penyebab
utama radang paru-paru atau pneumonia. Namun keberadaannya di dalam darah bisa menunjukkan risiko tinggi untuk mengalami serangan jantung koroner.
C-reactive protein (hs-CRP)
Protein ini merupakan komponen darah yang menunjukkan adanya inflamasi atau radang yang terjadi di pembuluh darah arteri. Dibandingkan kadar LDL, kadar hs-CRP 2 kali lebih akurat memperkirakan risiko serangan jantung.
Fibrinogen.
Ketika terjadi luka, komponen ini bertanggung jawab untuk menghentikan darah yang mengucur dengan cara membekukan darah di permukaan luka. Jika ditemukan dalam kadar tinggi di dalam pembuluh darah, besar kemungkinannya untuk terjadi penyumbatan yang memicu stroke atau serangan jantung.
HDL2b
Komponen ini merupakan jenis kolesterol baik (HDL) yang memberikan perlindungan terbaik bagi jantung dengan cara menyingkirkan kolesterol jahat (LDL). Seseorang berada dalam risiko tinggi untuk mengalami serangan jantung jika kadar HDL2b di dalam darah sangat kecil.
Homocysteine
Merupakan produk sampingan dari metabolisme asam amino yang dihasilkan secara alami di dalam tubuh dan akan dibuang jika sudah tidak dibutuhkan. Apabila kadarnya di dalam darah sangat tinggi, artinya ada gangguan metabolisme yang bisa memicu serangan jantung.
Posted in Info Kesehatan, Informasi Kesehatan :: Kata Kunci: Kesehatan Jantung, Komponen Darah, Meramalkan Kondisi, Komponen Darah, tes darah ca 125, jenis tumor kandungan ca 125, komponen komponen darah, test darah ca 125, tes darah ca 125 untuk deteksi kanker serviks, komponen padat dan cair dalam darah, langkah kerja mengukur tekanan darah, MENDETEKSI KANKER DARI KOMPONEN DARAH, Obat kristal darah, penyebab penyumbatan, penyebab penyumbatan paru, test bakteri chlamydia dalam darah, polip, tes darah ca, tes laboratorium darah marker bagi osteoporosis, periksa darah apo b, akibat penyumbatan paru paru, komponen dalam darah, akurat CA125 CEA, apakah arang aktif bisa menyebabkan osteoporosis, apo b periksa darah, bahan yang memilikik senyawa gugus karboksil (-co2h), ca 125 tes darah, cara membekukan darah di gigi, cara menaikan apo-b, cara test ca 125, cek darah apo-b, chlamydia, darah ca, fungsi tes darah ca-125, harga cek lab ca-125, harga tes darah lab ca 125, tumor pembuluh darah tes darah
Gaya Hidup Sebagai Pencegah Penyakit Jantung
Pada tahun 1998 saja berdasarkan Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) penyakit yang digolongkan dalam penyakit sistem sirkulasi ini mencapai angka sebesar 24,4%, meningkat dari tahun 1985 yaitu sebesar 5,9%. Angka tersebut seharusnya cukup menjadi alasan bagi kita untuk segera merubah perilaku hidup kita, terutama kebisaan hidup dan pola makan yang baik. Penyakit jantung dipicu oleh dua macam faktor, yaiut faktorĀ yang tidak bisa dihindari dan faktor yang bisa dihindari. Faktor yang tidak bisa dihindari misalnya karena usia yang semakin tua dan keturunan, sementara faktor yang bisa dihindari itu terkait dengan gaya hidup seseorang,misalnya kurang berolahraga. Di Indonesia, orang yang berolahraga secara kontinyu hanya 9 persen dari total keseluruhan. Sebenarnya sudah menjadi pengetahuan umun dan tidak terbantahkan bahwa olahraga dapat menjaga kesehatan jantung. Namun waktu luang dan keterbatasan fasilitas menjadi alsan kita mengapa orang enggan melakukan aktivitas tersebut.
- Berolahraga dengan secukupnya
Pada umumnya seseorang yang kurang aktif, mempunyai resiko dua sampai tiga kali lebih besar untuk menderita serangan jantung dibanding orang yang aktif dan melakukan olahraga secara teratur. Latihan secara teratur dapat memperkuat otot jantung dan memperbaiki sistem peredaran darah di samping itu dapat mengurangi kegemukan. Sangat dianjurakan untuk melakukan jalan cepat 30 menit setiap hari dan paling tidak lakukan olahraga dalam bentuk apapun tiga kali dalam seminggu dengan intensitas setengah sampai satu jam. Hal ini sangatlah membantu kondisi kesehatan daripada hanya hanya menghabiskan waktu di depan televisi.
- Stress menyebabkan tekanan darah meninggkat
Stress yang berlarut-larut membuat denyut jantung dan tekanan darah meningkat. Hal ini tentu membuat jantung bekerja lebih berat dan pada akhirnya akan meningkatkan resiko penyakit jantung. Tingkah laku yang serba terburu-buru, cepat marah dan terlalu berambisi oleh beberapa kalangan dapat memicu timbulnya penyakit tersebut.
- Resiko perokok
Demikian pula dengan rokok, meski disadari merupakan kebiasaan yang buruk, tetap saja sebagian besar perokok tidak mau menghilangkan kebiasaan ini. Padahal bagi seorang perokok berat,resiko menghadapi kematian mendadak lima kali lebih besar daripada orang yang tidak merokok sama sekali. Sejumlah kecil nikotin dalam rokok adalah racun bagi tubuh. Nikotin yang terserap dalam setiap hisapan rokok memang tidak mematikan, tetapi tetap membahayakan jantung karena dapat mengakibatkan pengerasan pembuluh nadi serta serta mengacaukan irama jantung.
Posted in Info Kesehatan, Tips Umum :: Kata Kunci: - Berolahraga dengan secukupnya, - Resiko perokok, - Stress menyebabkan tekanan darah meninggkat, Gaya Hidup Sebagai Pencegah Penyakit Jantung, Kesehatan Jantung, kesehatan rumah tangga tentang kardiovaskuler, Resikoperokok